CERITA SATU
Sedih sekali mendengar kabar sakit hingga meninggalnya Pak Dedy N Hidayat. Seratus kenangan bersamanya tersimpan dalam memori, sebagian ada yang tak terkatakan dan tergambarkan. Bahkan kebersamaan dengannya sering hadir dalam impian. Sehingga buru-buru saya mengirim email hanya untuk sekedar bertanya, “Pak Dedy sehat-sehat saja? Baik-baik sajakah?”. Mulai saat ini, tidak perlu lagi pertanyaan itu muncul di email karena saya yakin, Pak Dedy baik-baik saja di Surga sana, bercengkerama dengan Tuhan.
Seratus kenangan berarti seratus cerita. Di ruang kerjanya, diskusi untuk tesis saya dulu, lama di sana, kadang sepi karena menunggu Pak Dedy mengolah kata dan ucapan, karena khawatir waktu cuma diisi oleh mulutku saja yang berkata-kata. Senyap…bunyi kepak sayap nyamuk dan lalat lebih menguat, dan pecahlah kesunyian, tangan pak Dedy menepuk lalat sambil berkata dengan senyum dikulum, “Yudi belum mandi ya, ada lalat.”
Seratus kenangan berarti seratus pengamatan. Suatu ketika, seorang mahasiswa bimbingan menghampirinya dengan membawa tas kertas kecil. Diberikannya untuk Pak Dedy, katanya, “Ini untuk Pak Dedy. Oleh-oleh, saya baru pulang ke kampung.” Dengan segera dan suara yang lambat dan pelan, Pak Dedy berkata, “Waduh. Jangan. Tidak usah. Sungguh tidak perlu.” Mahasiswa memaksa, Pak Dedy juga semakin menolak dengan sopan. Saya melihat peristiwa itu, sebagian dari hati saya kasihan kepada mahasiswa yang mungkin dengan tulus memberi, tetapi sebagian saya mencoba mengerti, Pak Dedy mungkin berkeyakinan, tidak baik menerima sesuatu dari mahasiswa yang masih menjadi bimbingannya. Perlahan saya keluar, tidak mau terlibat dalam peristiwa itu, dan tidak tahu akhir ceritanya.