Feeds:
Posts
Comments

PUBLIC LECTURING
“THE CONTEMPORARY PUBLIC RELATIONS RESEARCH AND STUDY”
Saturday, March 19, 2011

Background

The Public Relations (PR) practices are going to be colorful and very dynamic. It follows the development of communication industry and business in the world, both in private and public sector. PR practices have been more specific, and it leads more specialized, depending on its publics, context and scope. Unfortunately, the dynamic of PR practices is not followed by PR education. The PR education seems a separate part from the PR empiric. Its discrepancy usually affects on the raising of unsolved both on empirical and scientific problems. To limit these problems, organization both education institution and corporation, separately or integrated, needs to conduct research and study in PR. Three areas of PR follows are very important to explore deeper by research and studies; (1) crisis communication (2) communication with community/ corporate social responsibility, and (3) communication with investor/ investor relations. However, scholars and practitioners have paid little attention.

In this lecture, the three topics of PR research will be shared and discussed, by intended to: (1) extend the knowledge of those three PR specialization and theoretical and empirical problems; and (2) explore the PR researches and studies on those three areas, learning from experiences of Germany, Australia, and Japan, and (3) challenge and opportunity to conduct researches and studies based on PR problem in Indonesia.

Venue

Saturday, March 19, 2011
09.00 – 12.00 wib
Meeting Room Floor 4Th Library Buiding –UAJY

Speakers

1. Prof Dr Martin Loeffelholz (Lecturer- Ilmenau University of Technology, Germany)
2. Gregoria Arum Yudarwati, M.Mktg. Com (Lecturer – Atma Jaya Yogyakarta University, Yogyakarta)
3. FX Danarto Suryo Yudo, MA (Practitioner on Investor Relations, Yogyakarta)

For further information, please read the link follows. PR Public Lecture

Best,

Advertisements

Welcome to 2011

Welcome to 2011, welcome to a new year though I believe there is no a definitely new thing. Only in mind, something can be new. We create it! So, let works! Do something in a whole this Year!

CERITA SATU

Sedih sekali mendengar kabar sakit hingga meninggalnya Pak Dedy N Hidayat. Seratus kenangan bersamanya tersimpan dalam memori, sebagian ada yang tak terkatakan dan tergambarkan.  Bahkan kebersamaan dengannya sering hadir dalam impian. Sehingga buru-buru saya mengirim email hanya untuk sekedar bertanya, “Pak Dedy sehat-sehat saja? Baik-baik sajakah?”. Mulai saat ini, tidak  perlu lagi pertanyaan itu muncul di email karena saya yakin, Pak Dedy baik-baik saja di Surga sana, bercengkerama dengan Tuhan.

Seratus kenangan berarti seratus cerita. Di ruang kerjanya, diskusi untuk tesis saya dulu, lama di sana, kadang sepi karena menunggu Pak Dedy mengolah kata dan ucapan, karena khawatir waktu cuma diisi oleh mulutku saja yang berkata-kata. Senyap…bunyi kepak sayap nyamuk dan lalat lebih menguat, dan pecahlah kesunyian, tangan pak Dedy menepuk lalat sambil  berkata dengan senyum dikulum, “Yudi belum mandi ya, ada lalat.”

Seratus kenangan berarti seratus pengamatan. Suatu ketika, seorang mahasiswa bimbingan menghampirinya dengan membawa tas kertas kecil. Diberikannya untuk Pak Dedy, katanya, “Ini untuk Pak Dedy. Oleh-oleh, saya baru pulang ke kampung.” Dengan segera dan suara yang lambat dan pelan, Pak Dedy berkata, “Waduh. Jangan. Tidak usah. Sungguh tidak perlu.” Mahasiswa memaksa, Pak Dedy juga semakin menolak dengan sopan. Saya melihat peristiwa itu, sebagian dari hati saya kasihan kepada mahasiswa yang mungkin dengan tulus memberi, tetapi sebagian saya mencoba mengerti, Pak Dedy mungkin berkeyakinan, tidak baik menerima sesuatu dari mahasiswa yang masih menjadi bimbingannya. Perlahan saya keluar, tidak mau terlibat dalam peristiwa itu, dan tidak tahu akhir ceritanya.

Turut Berduka Cita

Selasa, 9 November 2010 telah pulang ke rumah Bapa di Surga,  Prof Dedy N Hidayat, PhD, Guru Besar Universitas Indonesia, dosen, teman, sahabat dan kolega yang telah memberi kenangan yang tak terlupakan. Turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan. Yakinlah bahwa dia telah bersuka cita bertemu Tuhan.

Jurnal Ilmu Komunikasi (JIK) FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta Volume 7 Nomor 1 Juni 2010 berisi 5 tulisan dari beberapa akademisi di Indonesia. Dalam jurnal ini,  Andre A Hardjana mengupas Budaya Organisasi,  MC Ninik Sri Rejeki mengidentifikasi teori-teori komunikasi yang berasal dari Antropologi, Yohanes Widodo menjelaskan kolaborasi antara ilmu, media dan Kebijakan dalam kasus flu burung, Siti Azizah mendeskripsikan strategi komunikasi dalam proses pembinaan pertanian, dan terkahir Galuh Gilang Pamekar melakukan evaluasi metode role playing dan role model dalam proses persuasi. Ingin tahu lebih jauh? Beli dan baca. Untuk pembelian, hubungi F Anita Herawati, phone 0274 487711 ext 3235 atau jik@mail.uajy.ac.id.

Sesekali cobalah Anda mendengar percakapan antara dosen dengan mahasiswa dalam proses penyusunan skripsi. Mungkin, salah satu dari  dua percakapan ini pernah kita alami, atau kita dengar.

Percakapan 1:

Mahasiswa: Ibu, apakah tepat teknik sampling yang saya pakai?

Dosen: Salah. Harus diperbaiki.

Mahasiswa: Perbaikannya seperti apa, Bu? Tolong saya diberitahu ya.

Dosen: Mestinya kamu pakai stratified teknik sampling.

Mahasiswa (dengan berbinar): Makasih, ya Bu. Kalau ukuran samplenya berapa, Bu?

Dosen: 30 responden.

Mahasiswa: 20 orang saja tidak cukup ya?

Dosen: Menurut buku 20 orang tidak cukup.

Mahasiswa: Oo…

Keesokan harinya, proposal sudah diperbaiki. Teknik sampling yang semula simple random menjadi stratified random sampling seperti yang dianjurkan oleh dosen pembimbingnya.

Di luar mahasiswa bercerita bahwa dosen pembimbingnya “uennak sekali”.

Suatu hari pada saat ujian skripsi.

Penguji: Mengapa kamu menggunakan stratified random sampling?

Mahasiswa (garuk-garuk kepala, dalam hati “waduh aku lupa tanya dosen pembimbingku je alasannya apa?”)

Penguji: Kok cuma garuk-garuk kepala? Kamu tahu nggak artinya teknik sampling? Ada berapa macam teknik sampling? Menurutmu, apakah ini tepat?

Mahasiswa (garuk-garuk kepala lebih kencang sampai kulit kepalanya mengelupas): Saya he …saya tidak tahu…he he.

Penguji: Kamu salah menentukan teknik sampling, yang betul itu simple random sampling.

Di luar ujian, mahasiswa menggerutu, memaki-maki dalam hati dosen pembimbingnya yang salah.

Percakapan 2:

Mahasiswa: Jadi gimana donk, Pak, teknik sampling saya? Salah ya?

Dosen: Menurutmu bagaimana?  Alasanmu apa  memilih simple random sampling?

Mahasiswa (berpikir sejenak): Menurut buku karangan  Abdul, simple random sampling digunakan ketika populasi cenderung homogen. Saya juga mengabaikan keragaman karakteristik individu.

Dosen: Oh ya, tunjukkan pada saya bukunya.

Mahasiswa menunjukkan bukunya dan membukakan halaman tepat pada kalimat yang dimaksud.

Dosen: Hipotesismu apa?

Mahasiswa: Ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap jenis pekerjaan pertama yang didapat oleh “fresh graduate”.

Dosen: Itu berarti apa? Apakah kamu mengabaikan keberagaman subyek di dalam populasi?

Mahasiswa (berpikir lagi) : He he…berarti saya salah memilih teknik sampling ya, Pak, karena saya mempertimbangkan keberagaman tingkat pendidikan.

Dosen: Jadi yang betul? Kalau kamu mempertimbangkan keberagaman yang “bertingkat”, mestinya teknik samplingnya apa supaya semua tingkat pendidikan yang dimiliki subyek dalam populasi terambil untuk  sampel?

Mahasiswa (garuk-garuk kepala): Apa ya? Stratified, Cluster?

Dosen: Pulanglah, baca lagi bukunya. Besok kamu harus sudah harus merevisi proposalmu.

Sehari kemudian mahasiswa datang, dan  sudah mengganti teknik samplingnya dengan stratified sampling.  Dua bulan kemudian, pada saat ujian skripsi.

Penguji: Mengapa kamu memilih Stratfied random sampling?

Mahasiswa: ya karena saya memiliki berbagai alasan, seperti yang saya kutip dari…….dst.

Penguji: Ada berapa macam sih teknik sampling pada kategori teknik probabilitas?

Mahasiswa (dengan tersenyum): Oh ada 4, Pak…ke empat teknik dipilih dengan tujuan yang berbeda….dst.

Merujuk pada dua percakapan di atas, coba kita renungkan pertanyaan berikut:

1. Model pembimbingan skripsi yang manakah yang disukai mahasiswa?

2. Model pembimbingan skripsi manakah yang dapat membantu mahasiswa memahami dan menguasai apa yang ditulis dan apa yang ditelitinya sendiri?

3. Model pembimbingan skripsi manakah yang membantu mahasiswa supaya siap berargumentasi dalam sidang ujian skripsi?

(yudi)

Seperti sebuah lagu anak-anak Tasya yang imut nan cantik  ” Ujian telah tiba..ujian telah tiba” …he he salah ya…tapi bagi saya, seorang dosen, begitu ujian mahasiswa tiba, serasa dada ini lepas dari himpitan kehidupan yang menyesakkan jiwa. Ah…bukankah demikian juga dengan mahasiswa di kelas saya? Begitu saya bilang hari ini kuliah terakhir, wajah cerah dan senyum mengembang menyeruak dimana-mana. Ah, ternyata dosen dan mahasiswa sama-sama manusia.